Sejarah bergerak tak lama dari benua Afrika, sebuah peradaban besar eropa juga menasbihkan kekuasaannya dengan berbagai kerajinan batu. Yunani mengembangkan dan membawa wujud batu alam pada tingkatan baru di hierarki arsitektural. Menggunakan marmer , Yunani mendirikan Kuil Artemisia. Kuil Artemis diyakini sebagai bangunan besar pertama yang seluruh materialnya menggunakan marmer. Kuil tersebut masih hadir dalam bentuk puing-puing akibat penjajahan dan perang yang melibatkan Yunani. Pemikiran masayrakat Yunani akan bangunan-bangunan untuk para dewa-dewinya melahirkan struktur arsitektural menakjubkan lainnya seperti Parthenon, Theseum, dan Kuil Zeus. Hingga hari ini marmer yang dulunya menyusun bangunan-bangunan tersebut masih terus ditambang dibawah daban komersil bernama Dionyssomarble.

Masyarakat Yunani merupakan peradaban yang menerapkan batu alam pada interior rumah , dan banyak diperlihatkan lewat kolam dan bak mandi yang dibentuk dari marmer. Referensi tersebut menunjukan marmer masih terus ditambang dan diperjualbelika hingga saat ini.

Peradaban lain yang tidak kalah asing adalah Bangsa Romawi. Romawi kuno berkembang di awal abad pertama dengan berbagai kemegahan struktur kotanya. Masyarakat Romawi memadukan dua batu alam yaitu marmer dan granite. Para insinyur pada masa itu setuju untuk menggunakan granite sebagai paving blok terbaik di jalan-jalan kota. Selain itu bak mandi publik juga bermaterial dasar granit serta masih banyak lagi perabot serta bagian sudut Romawi yang dihiasi granite. Granit juga dibentuk menjadi kolom-kolom bangunan megah seperti yang dapat dilihat pada bangunan Pantheon di Roma,Italia.

Bangsa Romawi memakai granite karena memiliki daya tahan yang belum tertandingi oleh struktur bangunan lain saat itu, berbeda dengan marmer yang lebih diagungkan karena keindahannya. Raja Augustus Caesar berpesan sesuatu saat menguasai sebuah kota, “Aku menemukan kota batu, dan Aku meninggalkannya sebagai kota marmer.” Berbeda dengan Yunani, Bangsa Romawi membentuk struktur bangunan dengan batu bata dengan adukan semen yang kokoh, dan dilapis dengan lempengan marmer. Mereka tidak terlalu menyukai menggunakan blok raksasa dari marmer untuk infrastruktur utama, sehingga memakan waktu lebih cepat. Teknik Bangsa Romawi ini masih diterapkan oleh bangunan-bangunan di berbgaai belahan dunia.

Bangsa Romawi menambang marmer dan granite diseluruh pelosok Negara, tetapi seringkali menemukan marmer paling indah datang dari Yunani. Mereka bersyukur akan marmer Cipollino milik Karystos karena hijaunya yang memesona. Selama masa Renaisans, penambangan dan teknik pengolahan berkembang lebih baik sehingga dapat menerapkan marmer dan granite lebih intensif pada rumah, sebagaimana turut digunakan pada gereja, masjid,monument, dan bangunan lainnya. Batu alam selalu dipakai untuk material bak mandi dan lantai hingga akhirnya mulai dikembangkan pada dapur pada era modern.

168951-120-605E6339

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>